Minggu / 18 MEI 2014
Laki-laki
yang memegang tali dengan Si AGUS
Salam…. Kawan, perkenalkan ya,,, namaku Lia, hari ini aku
akan berbagi cerita kepada kalian semua…
Siang itu aku sedang duduk di ruang tamu rumah ku, aku
sedang sibuk menyelesaikan tugas ku menggunakan laptop ku, saat itu aku nampak
santai, namun tak berapa lama ada yang mengusik kesibukan ku.
Aku mendengar musik gamelan jawa dimainkan, musik itu sangat
keras. Ditambah lagi dengan suara teriakan
dan tawa anak anak, yang tentunya itu adalah suara dari anak tetangga-tetangga
rumah ku. Awalnya aku biasa saja mendengar semua keributan di luar rumah ku
itu, aku tetap fokus mengerjakan tugas-tugas ku, tapi pikiran ku mulai
bertanya-tanya, “Ada apa sih diluar sana? Suara
apa itu? Mungkin itu suara pertunjukan topeng monyet kali ya?”
bermacam-macam pertanyaan yang silih berganti memenuhi pikiran ku, hingga
akhirnya, setelah beberapa menit aku pun beranjak dari tempat duduk ku.
Aku hampiri kaca jendela rumah ku, dan ternyata dugaan ku
benar, suara yang sangat ribut itu adalah suara dari pertunjukan topeng monyet.
Kulihat seorang laki laki memegang tali yang sangat panjang, dia tersenyum
kecil, awalnya aku heran, “Mana monyet nya?
Mengapa laki-laki itu berdiri sendiri? Mengapa juga dia tersenyum sambil memegang
tali? Siapa yang memainkan musik jawa itu?” lalu laki-laki itu menarik tali
yang ia pegang dengan sekuat-kuatnya, dan muncul lah si monyet. Monyet itu
bersepeda, monyet itu bersepeda dengan sangat cepat “Ooohh.. ternyata tali yang panjang itu digunakan untuk menarik
sepeda si monyet, supaya monyet nya bisa bersepeda dengan cepat yaaa…” gumam
ku dalam hati.
Topeng monyet yang aku saksikan ini berbeda dari
pertunjukkan topeng monyet biasanya, aku pun ikut menikmati pertunjukan topeng
monyet itu. Saat aku menikmati pertunjukkan nya, entah mengapa air mataku jatuh,,,,,,
hati ku terasa saaaangat sakit,,,,,, perasaan ku pun menjadi sedih. Semua itu
terjadi saat aku melihat laki-laki yang memegang tali itu, ku lihat badannya
cukup besar, badannya juga tinggi, kulit nya berwarna hitam manis, “Hmm,,, sepertinya dia adalah orang yang tangguh”
--gumam ku dalam hati-- tapiii…. raut wajah nya telah menjawab semua pendapat-pendapat
ku tentang dirinya. Hingga sebuah senyuman kecil yang ku lihat tadi, tak dapat
menutupi keadaan dirinya. Yaa.. terlihat jelas bahwa dia sedang dalam kondisi
yang tidak baik.
Berbagai kalimat tanya dan pendapat ku pun kini kembali lagi
memenuhi benak ku. “Lihat… lihat dia Lia,,
apakah laki-laki itu sudah makan tadi pagi? Sempat kah dia mandi tadi pagi? Apakah
dia tidak merasa lelah melakukan pertunjukkan topeng monyet ini disaat hari
yang sangat terik ini? Dimana tempatnya untuk beristirahat?” semua
kalimat-kalimat itu tak dapat aku jawab. Aku terus saja menangis….. Dalam
tangis ku itu tersirat rasa kasihan yang saanngat mendalam. Aku juga merasa
sedih, serta kecewa ---kecewa pada diri sendiri----
Dengan melihat pertunjukkan itu melalui kaca jendela rumah,
tentu saja membuat ku tambah penasaran dengan aksi-aksi si monyet, aku pun
keluar rumah agar aku dapat melihat dengan jelas pertunjukkan topeng monyet
itu.
Lagi-lagiiiii……. Air mata ku menetes, bagaimana tidak??!!…
pikir ku, tali yang panjang tadi digunakan untuk menarik sepeda si monyet, tapi
ternyata tali itu diikatkan pada kalung si monyet, “berartiiii… si monyetlah yang di tarik, bukan sepedanya?! Kasihan
sekali kamu monyet malang…”. Berkali-kali monyet itu mondar-mandir dengan
sepedanya,”Ayoo Aguuuss,,, yaa,, Agus terjatuh.. sekarang Agus mau sholat”---kata laki-laki
yang memegang tali--- ternyata monyet
itu bernama Agus, Agus –si monyet—pun juga beraksi seperti orang sholat,
setelah pertunjukkan topeng monyet itu hampir selesai, aku pun masuk ke dalam
rumah untuk mengambil uang untuk membayar pertunjukkan topeng monyet itu.
Sesudahnya aku pun mendekat ke pagar halaman rumah ku, ku tengok
ke kiri,, banyak sekali tetangga ku yang menyaksikan pertunjukkan ini, ada
tetanggaku yang memberi si Agus pisang, lalu setelah aku tengok ke kanan,
kulihat lagi dua orang laki-laki. Ternyata laki-laki yang memegang tali itu
tidak sendirian, dia bermain pertunjukkan topeng monyet bersama dengan dua
orang temannya, “Ooohh,, ternyata
dua orang ini yang memainkan musik gamelan jawa nyaaaa…” Satu
persatu pertanyaan dalam benakku mulai terjawab, setelah beberapa saat
laki-laki yang memegang tali itu pun berjalan, tak lupa pula ia bawa sebuah
toples menuju orang-orang yang menyaksikan pertunjukkan itu, dia meminta upah
dengan sukarela.
Laki-laki yang memegang tali itu masih saja tersenyum kecil sambil
membawa toples yang berisi uang, semua orang pun telah memberikan upahnya, tak
lupa pula lagi-lagi tetangga ku memberikan bekal pisang kepada si Agus. Lalu dua
orang temannya pun mulai beranjak, laki-laki yang memegang tali itu juga terus
berjalan mengikuti dua orang temannya sambil menarik si Agus.
Pertunjukkan topeng monyet pun selesai, aku pun masuk ke dalam rumah
dengan menyaksikan dua orang laki-laki, laki-laki yang memegang tali dan si
Agus pergi.
---------------------------------
Rasa kasihan, dan sedih bercampur haru ini bukan tanpa alasan, tetapi
karena melihat semangat laki-laki yang menarik tali, si Agus dan dua orang
teman laki-laki itu dalam bekerja sekaligus menghibur orang-orang. Mereka
berkeliling, berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, tentunya dengan
membawa peralatan musik gamelan jawa yang berat, dia menggendong Agus, saat
permainan mulai dia juga menarik tali dengan kuat, dan itu semua mereka lakukan
tanpa mengeluh, panasnya cahaya matahari yang menyengat tubuh tidak mereka
hiraukan, laki-laki yang meraik tali itu dan dua orang temannya tetap tersenyum
walau dengan senyuman kecil.
Dengan semua beban itu dan segala keterbatasan yang mereka punya,
mereka masih bisa semangat untuk bekerja, masih bisa tersenyum untuk bahagia,
masih bersama untuk berbagi suka maupun duka.
Rasa kecewa ini juga memang sepatutnya ada, yaitu kekecewaan dari apa
yang apa yang kita usahakan dengan apa yang telah mereka usahakan, jika membandingkan
diri ini dengan mereka –dgn niat utk bermuhasabah— tentu sangat terlampau jauh
bedanya, kita mungkin dalam keadaan yang baik. Kita dapat makan dengan kenyang,
mereka harus memeras keringat dulu agar dapat makan, kita dapat beristirahat
dengan nyaman, mereka beristirahat dgn tempat yang seadanya, kita mengahabiskan
waktu untuk bermain-main, mereka menggunakan waktu untuk hidup.
Sudahkah kita bersyukur kepada Allah.SWT? Bersyukur dengan menggunakan
pinjaman-NYA untuk hal-hal yang baik-baik, untuk beramal sholeh. Saat ditimpa
masalah / musibah, apakah kita selalu sabar? Sudahkah kita berusaha dengan
sebaik-baiknya dalm mencapai sesuatu? Dengan sisa waktu yang kita punya, apa
kah bekal kita sudah siap untuk Akhirat nanti?
--------------------------------------
Setiap
Muslim sesungguhnya dituntut untuk bekerja keras
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai
hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (Q.S
Nuh:(71):19-20)
”Maka apabila telah dilaksanakan shalat,
bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. Al-Jumu’ah (62): 10)
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang
yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan
sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalu
makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari
nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa
Jalla”. (HR. Ahmad)
Ref :
https://www.facebook.com/permalink.php?id=159473630789482&story_fbid=446751262061716
Bersabar
dalam Masalah
Besarnya pahala
sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila
menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya
manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Ref : http://www.dakwatuna.com/2012/12/21/25679/ada-kasih-sayang-allah-di-balik-ujian-yang-datang/
"...
Karena sessungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan"(QS. Al-Insyirah : 5-6)
Ref :
http://eviandrianimosy.blogspot.com/2010/05/membangkitkan-semangat-muslim-untuk.html
Perumpamaan Orang
yang bersabar
“Mereka itulah yang mendapat kerbekatan yang
sempurna dari tuhan mereka, dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk”.
(T.Q.S. Al Baqoroh : 157)
”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” T.Q.S: Az-zumar: 10)
“Alangkah mengagumkam kaum muslimin itu ketika mereka memperoleh kenikmatan mereka bersyukur. Hal ini menjadi sebuah kebaikan baginya. Sedangkan apabila mereka mendapatkan musibah, cobaan, masalah mereka pun bersabar menghadapinya” Al Hadist.
Ref :
https://id-id.facebook.com/kabarislami1/posts/501596299904160
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu
dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari).
Ref :
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/beginilah-seharusnya-kita-memanfaatkan-waktu.htm
Manfaatkan Waktu
Kita akan
dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh akan waktu yang telah kita
pergunakan.
“Tidak tergelincir kedua kaki
seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya;
dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Ilmunya; apakah
diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja
dihabiskannya” (Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi )
Umat
manusia benar-benar berada didalam kerugian yang nyata apabila tidak
memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah seoptimal mungkin
untuk berjalan diatas ketaatanNya.
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3).
Ref :
http://faisalchoir.blogspot.com/2012/05/karena-waktu-kita-begitu-berharga.html
#ForYouForMe , Semoga
Bermanfaat~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar